oleh

QTC Al Mady Yogyakarta Percontohan Metode Ummi

SLEMAN – Sebanyak 101 Santri Quran Training Centre (QTC) Al Mady Yogyakarta, dinyatakan lulus dalam Khotaman Imtihan Akbar di Auditorium UPN “Veteran” Yogyakarta, Minggu (24/11/2019) siang.

Lembaga Pendidikan Al Quran yangmenjadi percontohan metode Ummi di Indonesia ini hingga tahun 2019 telah meluluskan santri dengan kemampuan membaca Al Quran secara tuntas setelah setahun belajar.

Ketua Khotaman Imtihan Akbar, Farida Akbar mengatakan, Tahun 2019 ini merupakan Khotaman Imtihan Akbar yang ke empat kalinya yang diselenggarakan oleh TQC Al Mady,

“Rata -rata santri Al Mady yang masih usia anak-anak mampu menuntaskan belajar dalam satu tahun dengan metode Ummi. Ini dibuktikan juga dengan uji Publik,” katanya dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Selasa (26/11/2019).

Dalam Khotaman Imtihan Akbar QTC Al Mady kemarin, pihaknya mengundang 5000 orang dari berbagai TPA dan TPQ di Yogyakarta, dimana para undangan tersebut boleh bertanya berbagai materi yang sudah dipelajari para santri,

“Para hadirin diberi kesempatan untuk menguji atau bertanya kepada anak-anak (Santri) terkait materi yang diajarkan. Ternyata anak-anak mampu menjawab dengan lancar dan benar. Artinya bisa dipertanggungjawabkan dan dapat dilihat sudah tuntas semua,” tuturnya.

Menurutnya, keunggulan metode ummi adalah anak-anak bisa dengan mudah dan cepat mempelajari Al Qur’an dengan benar dan tepat. Misalnya, kata dia, untuk turjuman, anak-anak bisa mengartikan per ayat dan perkata,

“Dari Tartil, Turjuman Al Qur’an, serta yang baru Kaifatushalli,  rata-rata satu tahun anak-anak sudah mampu menuntaskan,” tuturnya usai acara.

Selain itu, kata dia,  Imtihan Akbar juga sebagai sosialisasi QTC Al Mady yang menggunakan metode Ummi, program khusus yang tidak diajarkan di TPQ lain atau Lembaga senisnya,

“Hanya Ummi Foundation Yogyakarta yang menerapkan. Jadi QTC Al Madilah yang pertama, menjadi percontohannya lembaga-lembaga (TPQ) yang ingin memakai metode Ummi,” ujarnya.

Farida menambahkan  acara  dihadiri Direktur sekaligus Pembina dari Ummi Foundation Nasional, K.H. M. Ihya’ Ulumiddin yang sekaligus penulis buku dari Kaifatushalli, termasuk para ustadz dari pondok pesantren dan cabang dari K.H. M. Ihya’ Ulumiddin yang tersebar di Indonesia.

Program kaifatushalli atau mengenal dan mengajarkan gerakan sholat dari berbagai sumber mahdzab penting untuk diketahui. Hal itu agar ummat Islam di Indonesia tidak salah paham dalam menyikapi dan mengomentari perbedaan gerakan shalat,  

“Ada berbagai macam gerakan, dari imam itu kan ada 4 mahdzab, nah itu akan diterangkan kepada anak-anak. Jadi bisa menghargai perbedaaan,” terangnya.

Sementara itu salah satu santri lulusan terbaik QTC Almady 2019, Muhammad Hakim Fadli Himatullah mengaku belajar Al Qur’an di QTC Al Mady sangat menyenangkan dan mudah dipahami. Ia mengaku bisa menuntaskan materi hanya dalam waktu 1 tahun di TPQ semi pesantren yang beralamat di Jl. Candi Sambisari, Juwangen, Purwomartani,Kalasan Sleman, tersebut,

“Belajar Al Qur’an di QTC Al Mady tidak berat, menyenangkan, ustadz uztadzahnya baik-baik, teman-teman menyenangkan. Saya sangat bangga dan Bahagia banget bisa lulus dari Al Mady,” kata siswa kelas 4 SD Idea Baru Kalasan ini. (iis)

Komentar

News Feed