oleh

Sikap Ketua Umum Masyarakat Pesantren Tentang Insiden Pembakaran Bendera di Garut

Jakarta – Pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat “Laa Ilaaha Illa Allah” oleh anggota Banser di Garut hingga saat ini masih menyita perhatian publik. Diantaranya ada yang mengutuk dan yang lain membenarkan tindakan tersebut sebagai langkah yang tepat.

Ketua Umum Masyarakat Pesantren Hafidz Taftazani memberikan penjelasan alasan pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid tersebut. Menurutnya, tindakan tersebut semata-mata adalah sebuah spontanitas untuk menghormati dan menjaga agar munculnya bendera tersebut tidak diinjak-injak oleh para santri yang hadir.

“Banser membakar itu adalah sebuah tindakan spontanitas daripada diinjak-injak. Selama ini membakar ‘La Ilaaha Illa Allah’ sudah terjadi dimana-mana. Satu contoh, kalau ada Al-Quran yang rusak di Mushollah, Qur’an yang sobek atau di dalam koran ada lafadz ‘La Ilaaha Illa Allah’ dan kalimat Thoyibah lainnya, itu kita sobek, kita bakar, pembakaran seperti itu bukan menjadi sebuah penistaan,” jelasnya Kiyai Hafidz.

Menurutnya, hal tersebut disamakan dengan perlakuan kita ketika menemukan potongan sobekan mushaf Al-Quran yang dianjurkan untuk dibakar jika kita tidak dapat menjaga atau menyimpannya dengan baik.

“Apalagi Polda Jawa Barat telah mengeluarkan pres rilisnya bahwa yang di bakar adalah bendera HTI. Itu yang harus dititikberatkan,” ucapnya.

Beliau menceritakan bahwa pada saat Peringatan Hari Santri, di lokasi acara sebenarnya sudah tidak diperbolehkan menggunakan atribut bendera lain kecuali Bendera Merah Putih.

“Upacara tersebut dilakukan di Limbangan dan hanya untuk tiga kecamatan, dan ternyata pelaku pembawa bendera datang dari Cibatu, daerah yang cukup jauh dari lokasi,” jelas Alumnus Universitas Ummul Quro, Makkah ini.

Berkaitan dengan itu, Masyarakat Pesantren mengeluarkan sikap sebagai berikut:

1. Masyarakat Pesantren merasa bersyukur bahwa Peringatan Hari Santri yang dilakukan hari Senin yang lalu diperingati serentak dan sukses di seluruh Indonesia. Bahkan di Jawa Barat, gubernur sendiri yang memberikan instruksi kepada aparat-aparat pemerintah untuk melakukan upacara peringatan Hari Santri.

2. Tindakan Banser adalah tindakan yang tidak melampaui batas. Sebab kalau tidak dibakar bendera itu bisa diinjak-injak oleh para santri yang hadir.

3. Dibalik munculnya insiden ini, ada sebuah sistematik yang digunakan kelompok tertentu untuk tujuan antara lain:

a. Ada rasa kebencian dari sekelompok orang terhadap kegiatan Banser.

b. Ada satu kelompok yang memang tidak suka dengan kelompok santri, apalagi Hari Santri sudah diperingati secara nasional.

 

“Pembakaran bukan suatu persoalan yang sangat berlebihan, yang tidak boleh adalah bendera tauhid diduduki atau diinjank-injak, atau menggunakan kaos yang bertuliskan kalita tauhid di bawa ke dalam WC,” jelas Kiyai Hafidz.

Selama ini, kita dapatkan kalimat tauhid digunakan dalam bendera sebagai symbol, seperti bendera yang dipakain Arab Saudi bertuliskan kalimat tauhid yang dibawahnya ada pedangnya. Bendera yang dipakai oleh HTI (benderanya organisasi yang sudah dibubarkan di Indonesia), serta bendera ISIS.

“Semua orang tidak suka ISIS, dan dimana-mana bendera itu dibakar, g ada masalah kan?. Kalimat tauhid itu milik kita semua, milik umat Islam semua, pada saat kalimat tauhid digunakan oleh kelompok tertentu ini menjadi masalah,” ucapnya.

“Lalu kalau kita tidak menggunakan bendera seperti itu apakah kita tidak menjadi Islam?. Dengan bendera Merah Putih kita, apakah kita juga tidak menjadi Islam?. Islam kita kan bukan di bendera, karena Islam kita tidak bergantung pada bendera,” lanjutnya.

Oleh karena itu , Ia berharap masyarakat bisa membedakan kalimat tauhid yang menjadi milik kita semua, dengan kalimat tauhid yang dijadikan lambang khusus oleh kelompok tertentu.

“Jadi menurut hemat kami hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan, apalagi ditanggapi secara emosional yang membuat gaduh dan permusuhan,” pungkasnya.

Komentar

News Feed