oleh

Kepemimpinan di Indonesia Menurut Masyarakat Pesantren

Jakarta — Situasi politik di Indonesia saat ini berjalan sangat dinamis. Jika mengacu pada sejarah pendirian Republik Indonesia, masyarakat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan hanya terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok abangan (nasionalis) dan kelompok sarungan (pesantren). Dua hal ini merupakan pendukung secara demokratis terhadap berdirinya sebuah pemerintahan.

Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Masyarakat Pesantren, Hafidz Taftadzani saat menaggapi persoalan politik di negeri ini menjelang pemilihan umum Presiden Republik Indonesia. Ia mengatakan, pemerintahan akan menjadi sejuk dan berjalan dengan baik, jika pemimpin merasa sejuk ketika hadir di tengah-tengah santri dan kiyai seperti yang sedang berlangsung saat ini.

Lebih jauh, Hafidz menjelaskna bahwa roda pemerintahan akan berjalan dengan baik jika mendapatkan dukungan yang besar dari kelompok masyarakat. “Dukungan itu akan datang dari mana, ya jika nanti pemimpinnya adalah seorang pemimpin yang misalnya mereka berangkat dari kelompok abangan, tetapi didukung oleh kelompok sarungan,”jelas Hafidz yang juga pimpinan sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah.

Melihat kondisi politik saat ini, Hafidz menjelaskan bahwa kelompok sarungan yang mendapat dukungan terbesar dari masyarakat sudah kelihatan sosoknya. “Ya ini tinggal dipasangkan saja dengan kaum abangan, kalau dalam Bahasa Jawa, Abang itu kan merah,” ucap Hafidz.

Hafidz menceritakan, pada zaman perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, perang di berbagai wilayah dilakukan oleh para kiyai, santri dan juga para nasionalis seperti perang di Surabaya, Sulawesi dan daerah lainnya dan juga para Sultan yang ada di daerah-daerah.

Melihat dari sejarah tersebut, Hafidz menilai menjaga NKRI ini tidak bisa dipisahkan dari dua kelompok abangan dan sarungan. “Kelompok sarungan itu siapa? Yaitu santri, baik santri yang menjadi pejabat di pemerintah, santri sebagai tentara, santri sebagai polisi, santri sebagai pegawai negeri, santri yang menjadi tukang kayu, santri yang menjadi buruh, santri yang menjadi tukang becak dan sebagainya,” kata Hafidz.

Empat Pilar Kebangsaan

Ketua Masyarakat Pesantren, Hafidz Taftadzani menjelaskan bahwa kemerdekaan Indonesia telah dibangun oleh empat pilar, yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Undang-undang Dasar 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurutnya, hal ini merupakan kristalisasi dari adanya rumusan kesepakatan berdirinya republik ini yang dirumuskan dalam sidang BPUPKI.

Berkaitan dengan itu, peranan organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama yang didirikan bersama dengan Faunding Father Soekarno, juga merupakan konsep yang cocok berkaitan dengan kondisi di Indonesia yang majemuk dengan adanya berbagai agama, adanya 724 suku bangsa yang ternyata menjadi satu dalam kehidupan yang harmonis.

“PBNU yang diplesetkan oleh para kiyai juga sangat pas sejalan dengan nafas Indonesia, P nya yaitu Pancasila, B nya yaitu Bhineka Tunggal Ika, N yaitu NKRI dan U nya yaitu Undang-undang Dasar 1945,” ucap Hafidz.

Apalagi, lanjut Hafidz, PBNU saat ini mempunyai jumlah anggota sebanyak 92,2 juta yang tentunya sangat berperan dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Berkaitan dengan personalifikasi yang cocok untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode mendatang, Hafidz menjelaskan yang cocok secara umum yaitu Jokowi karena sudah tidak bisa untuk dikalahkan oleh siapapun dengan track record saat ini sangat bagus membawa Indonesia.

“Tapi kita juga mendorong yang lain, kita juga tidak meributkan sosok yang muncul dari calon presiden lain sebagai standar demokrasi. Hanya saja harus dengan cara-cara yang etis, tidak menjungkir-balikan fakta serta merendahkan etika karena hal itu sekarang gampang terjadi dengan adanya medsos,” kata Hafidz.

Hafidz mengungkapkan, lembaga survey di Indonesia saat ini secara umum Jokowi unggul dalam survey yang nanti memegang pimpinan. Untuk hal tersebut Jokowi harus didampingi oleh kelompok santri sehingga akan menjadi representasi dari kelompok terbesar di Indonesia.

Sedangkan untuk calon Wapres, Hafidz memberikan masukan untuk mengambil pendamping yang menyejukkan pemerintahan yang diambil dari kelompok santri terbesar di Indonesia.

Hafidz berharap, kelompok sarungan dan abangan bersatu dalam semangat dan cita-cita bersama dalam membangun NKRI dengan tujuan baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang subur makmur, adil dan aman.

Komentar

News Feed