oleh

Ini Tanggapan IITCF Soal Pentingnya Sertifikasi Biro Perjalanan Wisata

Jakarta — Tak dapat dimungkiri, pemasaran menjadi salah satu kunci sukses bagi kemajuan sebuah perusahaan. Salah satu pemasaran yang paling cocok di era digital seperti saat ini adalah dengan pemanfaatan media sosial.

Hal itu disampaikan oleh Chairman Of Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) Priyadi Abadi dalam acara workshop & training Optimize Digital Marketing dan Sosialisasi Sertifikasi Usaha Pariwisata Lingkup BPW yang dilaksanakan pada hari Rabu, 09 Mei 2018 di gedung Muamalat Tower.

Menurut Priyadi, salah satu marketing tools saat ini adalah dengan digital marketing. Para pelaku usaha khususnya di bidang travel muslim harus bisa memanfaatkan pemasaran dengan cara pemanfaatan media sosial.

“Kita sekarang harus melek sosial media seperti Instagram, Facebook, Twitter dan lain-lain. Dulu orang ikut umrah dan haji mungkin lihat figur ulama atau kiyai, mungkin sekarang di zaman teknologi seperti ini, ya mau g mau harus mengikuti perkembangan zaman dengan menguasai teknologi digital,” kata Priyadi.

Selain tema digital marketing yang kedua kalinya dibahas IITCF tersebut, dalam acara rutin bulanan IITCF kali juga membahas sertifikasi biro perjalanan wisata (BPW) yang sangat penting bagi pelaku usaha di bidang travel ini.

“Ini salah satu bentuk kegiatan IITCF dalam rangka meminimalisir umrah-umrah yang bermasalah. Bagi para calon yang mengajukan izin PPIU baru, ataupun yang mau terjun ke bisnis travel langkah pertama yaitu harus sudah tersertifikasi BPW,” jelas Priyadi.

Priyadi menjelaskan, sebagai narasumber terkait tema BPW, IITCF menghadirkan narasumber dari Komite Akreditasi Nasional, Irsyad M. N. Nasution.

“Disini dijelaskan bagaimana langkah-langkah awal seseorang membuka usaha travel. Ini dalam rangka meningkatkan skill Sumber Daya Manusia (SDM) kita, khususnya para pelaku travel muslim Indonesia agar tdak hanya berkutat di umrah dan haji saja, namun ada wisata muslim dan ofortunity yang bisa digarap semua travel muslim,” kata Priyadi.

Acara IITCF kali ini didukung dan disponsori oleh Bank Muamalat dengan menyediakan ruang untuk diskusi di lantai 19 gedung Muamalat Tower.

“Saya rasa Muamalat adalah salah satu bank terdepan saat ini yang memberikan kontribusi terhadap umrah dan haji. Kita bisa lihat satu lantai di lantai 19 didedikasikan untuk empat asosiasi umrah dan haji. Mudah-mudahan Bank Muamalat juga konsen mengundang kami-kami ini yang konsen di wisata muslim. Bukan umrah dan haji saja, karena perputaran uangnya kan juga tidak kalah besar juga dengan umrah dan haji apalagi saat musim liburan seperti ini,” ucap Priyadi.

“Trimakasih sekali kita difasilitasi seperti ini, kedepan juga kita akan kerjasama dalam bentuk edukasi dan lainnya yang saling memberikan manfaat, apalagi bank Muamalat berbasis Islam jadi cocok sekali nafas nya dengan IITCF sebagai Penggerak wisata muslim,” kata Priyadi.

Sementara itu, Marissa Widyanti, Head of Proposition, Islamic Enterprise and Alliances Bank Muamalat mengatakan bahwa saat ini Bank Muamalat mempunyai divisi yang khusus menangani institusi-institusi Islam, organisasi Islam dan lainnya.

Terkait dengan haji dan umrah, saat ini Bank Muamalat telah memiliki debit card yang bisa dipakai di Arab Saudi dan penarika di atm dengan berlogo Visa bisa gratis hingga sepuluh kali.

“Terkait dengan wisata halal, Bank Muamalat mau menangkap peluang ini untuk memberikan solusi perbankan yang paling relevan,” kata Marissa.

Komentar

News Feed