oleh

A Trillion Dollar Economy: Rakyat Miskin Masih Berlimpah

Oleh: Anthony Budiawan

(Wakil Ketua Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia & Managing Director Political Economy and Policy Studies)

Ekonomi setiap negara akan bertumbuh dan lambat laun akan mencapai besaran, atau nilai nominal, tertentu, apakah itu 10 miliar dolar AS, 100 miliar dolar AS, 500 miliar dolar AS, atau 1 triliun dolar AS. Seberapa cepat besaran ekonomi tersebut mencapai nilai nominal tertentu, tergantung dari beberapa faktor utama seperti jumlah penduduk dan inflasi. Karena, semakin besar jumlah penduduk suatu negara biasanya nilai nominal ekonominya relatif juga akan semakin besar. Dan semakin tinggi tingkat inflasi dan harga barang maka nilai nominal ekonomi akan semakin membesar juga akibat bubble. Kalau nilai nominal ekonomi ini diukur dengan dolar AS, maka besarannya juga tergantung dari nilai tukar atau kurs terhadap dolar AS.

Belum lama berselang, pemerintah dan Bank Indonesia mengumumkan bahwa nilai nominal ekonomi Indonesia sudah lebih dari 1 triliun dolas AS. Bahkan juga dikatakan ekonomi Indonesia kemungkinan akan naik satu peringkat dari peringkat 16 ekonomi terbesar dunia menjadi peringkat 15. Mengapa pencapaian 1 triliun dolar ekonomi ini harus diumumkan kepada publik dengan nada seperti yang sangat menakjubkan? Apakah 1 triliun dolar ekonomi ini dapat diartikan rakyat sudah sejahtera? Apa arti 1 triliun dolar ekonomi bagi negara dan bagi masyarakat?

Besaran nilai nominal ekonomi, misalnya mencapai 1 triliun dolar AS, sama sekali tidak berarti apa-apa tanpa melihat faktor-faktor lainnya. Besaran nilai nominal ekonomi sama sekali tidak pernah menjadi tujuan dalam pembangunan ekonomi. Tidak bagi negara maju, dan juga tidak bagi negara berkembang. Bagi negara berkembang, yang lebih penting adalah mengurangi dan memberantas kemiskinan dari pada mencapai nilai nominal tertentu. Kenapa? Karena ekonomi secara nominal bisa membesar, tetapi di lain pihak angka kemiskinan juga meningkat. Hal ini terjadi ketika nilai nominal ekonomi naik akibat inflasi tinggi, sehingga mengakibatkan kemiskinan juga meningkat. Sebagai contoh, ekonomi Indonesia tahun 1997 hanya sebesar Rp668,3 triliun. Tahun 1998 ekonomi Indonesia naik menjadi Rp1.018 triliun, atau naik sekitar 52,3 persen. Tetapi, pada saat bersamaan jumlah penduduk miskin Indonesia juga melonjak tajam pada 1998.

Faktanya, kenaikan nilai nominal ekonomi menjadi 1 triliun dolar AS masih belum mampu memberantas kemiskinan di Indonesia serta meningkatkan kesejahteraan bagi rakyat bawah. Tahun 2017, jumlah penduduk miskin Indonesia dengan pendapatan kurang dari Rp400.995 per bulan per orang masih 26,58 juta orang. Kalau menggunakan garis kemiskinan internasional sebesar 3,10 dolar AS per hari per orang, atau setara dengan Rp1.278.750 per bulan per orang, maka jumlah penduduk miskin Indonesia melonjak menjadi 93 juta orang, atau sekitar 36 persen dari total populasi. Jadi, apa yang membanggakan menjadi 1 triliun dolar ekonomi ketika kondisi sosial masyarakat dan kemiskinan masih mewarnai kehidupan rakyat Indonesia, dengan pembagian kue ekonomi yang jauh dari adil. Sebagian besar kue ekonomi ini dinikmati oleh sekelompok kecil masyarakat saja yang menguasai kekuatan ekonomi Indonesia.

Kalau kita bagi dengan jumlah penduduk, pendapatan per kapita dari 1 triliun dolar ekonomi ini hanya 3.570 dolar AS pada 2016, jauh lebih rendah dari Malaysia yang mempunyai pendapatan per kapita sekitar 9.508 dolar AS untuk periode yang sama. Juga jauh lebih rendah dari Thailand dengan pendapatan per kapita sekitar 5.911 dolar AS. Padahal, nilai nominal ekonomi Malaysia hanya 296,5 miliar dolar AS, jauh di bawah 1 triliun dolar ekonomi, tetapi jauh lebih sejahtera dari Indonesia.

Komentar

News Feed