Bisnis Islam

Ali Abdul Rohman: Malu, Garis Pantai Terpanjang Kedua se-Dunia Tapi Impor Garam

  • Reporter:
  • Selasa, 6 Februari 2018 | 20:42
  • / 20 Jumadil Uula 1439
  • Dibaca : 23 kali
Ali Abdul Rohman: Malu, Garis Pantai Terpanjang Kedua se-Dunia Tapi Impor Garam
Ali Abdul Rohman (Kanan)

Staf Ahli Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Ali Abdul Rohman menilai prihatin, karena Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua sedunia namun masih impor garam. Ia pun berharap para pemangku kepentingan di Republik Indonesia agar memiliki perasaan yang kuat terhadap nasib para petani garam.

“Ini karena kurangnya kepekan dan kepedulian, kasihan nasib para petani garam,” keluhnya saat memberikan edukasi minggu lalu di Demak, Jawa Tengah, (06/2018).

Ia pun berharap, saatnya pemerintah memodernisasi usaha garam rakyat dengan inovasi teknologi. Pada kesempatan tersebut, Ali juga memperkenalkan Teknologi Ulir Filter (TuF). Dijelaskan, menggunakan Teknologi Ulir Filter (TUF), spesifikasi garam berhasil dinaikkan. Menurutnya, proses produksi garam konvensional biasanya dilakukan dengan cara berpindah-pindah petakan garam. Ini juga berpengaruh pada kualitasnya.

Lanjutnya, pada proses TUF, penggunaan teknologi ulir, penambahan bahan aditif dan geomembran dilakukan secara terpadu. Air laut disalurkan dalam jalur air berbentuk ulir yang membuat perjalanan air cukup panjang. Tujuannya untuk memperluas permukaan air sehingga waktu penguapan menjadi lebih banyak.

Lebih lanjut dipaparkan, terdapat beberapa pintu air yang merupakan tempat pemindahan air dari kolam satu ke kolam yang lain dalam proses persiapan air tua. Pada pintu air dilakukan penyaringan menggunakan ijuk, batok kelapa dan batu alam yang diletakkan dalam ember atau keranjang plastik. Dikatakan, bagian bawah dibuat lubang untuk meminimalkan terbawanya kotoran dari laut.

Dikatakannya penggunaan bahan aditif dan geomembran dilakukan di meja hablur. Penggunaan geomembran, menurutnya, akan mencegah tercampurnya garam dengan tanah. Pemakaian ketiga metode tersebut secara signifikan dapat mengurangi kotoran-kotoran yang biasanya tercampur pada produksi garam secara konvensional.

“Garam produksi lokal lebih berorientasi pada kebutuhan konsumsi dan tidak bisa memenuhi kebutuhan industri. Karena untuk garam industri dibutuhkan spesifikasi yang lebih tinggi,” pungkasnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional