oleh

Kondisi Bangunan Tua, Pulusan Santri Al-Ikhlas Dipulangkan

Kondisi bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ikhlas yang lapuk membuat puluhan santri dirumahkan karena terancam roboh total. Aktivis Nahdlatul Ulama Ahmad Fahir mendapatkan pengaduan dari sejumlah warga Kecamatan Ciseeng mengenai nasib miris yang dialami Pesantren Al-Ikhlas.

Pesantren ini berdiri sejak 20 tahun silam, terletak di Kampung Parungleungsir, RT 06/02, Desa Karikil, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Pada Selasa (23/1) lalu Fahir mengunjungi pesantren ini, bersama Ketua RT 01/0 2, Desa Babakan, Ciseeng, Arifin dan Ketua RT 02/02, Babakan, Yakub. Keduanya merupakan wali santri Ponpes Al-Ikhlas, berjarak sekitar tiga kilometer dari kediaman mereka. Kunjungan tersebut diterima langsung Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlas Kiai Muhamad Haerudin. “Bangunan pesantren ini sudah lapuk, sebagaian sudah ambruk. Perlu mendapatkan perhatian, dari siapa saja yang terketuk hatinya untuk kemajuan pendidikan Islam,” kata Fahir.

Pendiri Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor (KMNU-IPB) ini mengatakan, pemerintah perlu memperhatikan nasib pesantren, karena memiliki peran yang sama dengan lembaga persekolahan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. “Pesantren memiliki rekam jejak lebih panjang dari sekolah. Pesantren adalah lembaga pendidikan khas bumi Nusantara, yang telah lahir sejak 600 tahun silam,” kata Fahir.

Wali santri Arifin mengatakan, sejak setahun silam, puluhan santri Al-Ikhlas yang berasal dari desanya dan daerah lainnya sudah dirumahkan. Kondisi bangunan sudah tidak layak pakai untuk kegiatan belajar mengajar santri 24 jam. “Kami berharap r pemerintah memperhatikan nasib pesantren, terutama yang bercorak salafiyah seperti Al-Ikhlas yang sumberdayanya sangat terbatas, bahkan tidak pernah diakses bantuan pemerintah baik Kemenag maupun Pemda,” Arifin menerangkan.

Pengasuh Ponpes Al-Ikhlas Kiai Muhamad Haerudin mengatakan, kondiisi bangunan pesantrennya memburuk sejak setahun silam. “Saya mengelola pesantren secara mandiri, mengandalkan usaha warung kecil-kecilan. Tidak mengutip iuran dari santri,” ungkap alumnus Pesantren Sipak Jasinga, Bogor, ini.

Saat kondisi bangunan mulai lapuk dan miring, ia mencoba menggali informasi bantuan, terutama dari Pemda Kabupaten Bogor. “Saya sudah datang ke desa beberapa kali, untuk mengakses informasi bantuan dari Pemda Bogor. Katanya sejak dua tahun lalu sudah tidak ada bantuan untuk pesantren, sudah distop,” papar Haerudin.

Akibat jalan buntu yang dihadapi, Haerudin akhirnya mengambil kebijakan darurat dengan memulangan santri mukim yang berasal dari luar desa.“Ada sekitar 50 santri mukim yang belajar, terpaksa kami rumahkan. Sekarang hanya menyelenggarakan pengajian al-Quran untuk anak-anak sekitar pesantren, sambil menunggu pemugaran bangunan,” ujar Haerudin. [Metropolitan]

Komentar

News Feed