oleh

2018, Irjen Bekali Auditor 3 Pesan Penting Dalam Memulai Bekerja

Inspektur Jenderal Kementerian Agama, M. Nur Kholis Setiawan menutup acara Lokakarya Pengawasan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama di Bogor (10/1/2018). Dalam sambutannya, Nur Kholis berpesan 3 (tiga) hal kepada seluruh pegawai, khususnya para auditor.

Kegiatan Lokwas di awal tahun ini menjadi dinilai sangat penting guna menyusun rencana strategis pengawasan kita ke depan, agar lebih pas dengan dinamika dan selaras dengan diversitas satker kita yang jumlah 4138 satker dengan entitas akuntansi 6.882 satker. Sebuah tugas tidak sederhana bagi Itjen untuk menjadi pemandu/pengawas dengan jumlah satker tersebut.

Pertama, dalam bekerja, awali dengan sikap tawaddu dan pahami strategi luhur dakwah Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Irjen bercerita, Sunan Kalijaga pernah bertanya tentang bagaimana cara mengajarkan substansi keislaman kepada masyarakat yang sebelumnya sudah mengenal tradisi spiritualitas ajaran kesempurnaan diri. Lalu Sunan Kalijaga pun menyusun syair lagu macapat (dikenal dalam istilah jawa Sangkan Paraning Dumadi). Syair tersebut dirangkum olehnya menjadi 11 tembang yaitu Maskumambang, Mijil, Durma sampai dengan tembang Pucung.

Nasihat selanjutnya, Nur Kholis mengibaratkan kehidupan pegawai Itjen sudah memasuki fase durma  yaitu fase pengabdian setelah menjalani pahit getirnya kehidupan (dhandhang ghulo).

Ini merupakan tahapan berbakti, mengabdikan diri, mengoptimalkan peran, melaksanakan tugas fungsi. Fase ini biasanya agak lama sampai waktu kita memasuki pensiun (pangkur),” kata Nur Kholis.

Memulai fase durma (pengabdian) ini di tahun ini, kita dituntut bersikap tawaddu’, sebagaimana filosofi kasrahnya “inna” di awal kalimat yang tidak boleh dibaca “anna”, kasrah dapat dimaknai dengan sikap tawaddu karena berada di awal atau depan. Berkaitan itu, fungsi Itjen yang berada di depan menjadi desainer kebijakan, seharusnya wajib bersikap kasrah atau tawaddu. Karena dengan tawaddu, kita justru lebih berwibawa, sebaliknya bila kita takabbur, kita makin dibenci. Dengan tawaddu kita akan selalu dirindukan oleh satker keluarga besar kita untuk menjadi pendamping, pemandu dan pengantisipasi.

Nur Kholis menjelaskan lebih lanjut bahwa hasil lokakarya ini sebagai piranti yang akan memberikan daya dorong kuat untuk Kementerian Agama menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang. Namun, hal ini amat ditentukan oleh aktornya yaitu kita sebagai aparatur pengawas internal. Lokwas sebagai wasilahguidance, piranti/alat, bila aktor utamanya belum tawaddu maka akan sulit mencapai target, sebagus apapun alatnya.

Tawaddu ini menjadi modal dasar dalam menjalankan hasil Lokwas ini. Dengan niat ibadah, maka semuanya akan menjadi ringan. Sedinamis tantangan dan sesulit apapun permasalahannya, insya Allah menjadi mudah diselesaikan dengan kepala dingin,” terangnya.

Pesan kedua, menurut Nur Kholis, auditor harus arif dalam bekerja. Bisa menggabungkan antara dimensi kebenaran dengan dimensi kebaikan. Menurut Nur Kholis pada dasarnya manusia sangat dinamis, dan tidak dapat menghindari kekhilafan termasuk para auditi kita. Sehingga, kita dalam melaksanakan tugas membutuhkan kearifan.

Sebagaimana filosofi permainan gamelan, ‘nang-ning-nang-gung’ yang diciptakan oleh Sunan Bonang, menggambarkan auditor sebagai manusia biasa, pun tidak dapat menghindar dari kesalahan. Namun, ujungnya semua kembali ke Maha Agung,” jelas Nur Kholis.

Pesan ketiga kepada seluruh pegawai Itjen agar jangan lekas takabur dan lupa diri dengan pujian, jangan down atau galau ketika dicela orang lain.

Adanya penghargaan LHKPN dan UPG dari KPK yang baru-baru ini kita peroleh, jangan membuat kita takabur atau lupa diri. KPK tentu punya data analisis dalam menilai  itu, tapi  basisnya adalah prasangka baik. Karena data yang KPK miliki adalah yang dilaporkan dan yang diketahui oleh KPK, tapi data-data kelemahan kita yang tidak diketahui KPK dan tidak dilaporkan, luput dari penilaian tersebut,” jelas Irjen.

Menjelang akhir pidatonya, Nur Kholis mengutip nasihat dari kitab al-Hikam karya Ibnu Atha’illah Assakandary terkait kiat menghadapi pujian dan celaan.

“Jadilah kita pribadi yang mampu mencela diri sendiri. Sebab, kita lah yang paling tahu siapa sejatinya diri kita,” pesan Nur Kholis.

Komentar

News Feed