oleh

Soal Ahok dalam Kajian Kyai Kampung

Oleh:

Ust. Suhaeri Badrus

(Mantan Katib Syuriah Nahdlatul Ulama Cabang Bangil, Kab. Pasuruan)

Sejatinya umat Islam tidak perlu marah secara berlebihan, karena Pertama, yang diucapkan Ahok adalah kalimat yang lumrah dikatakan oleh siapapun yang takut kalah dalam semua kompetisi termasuk politik, karena tidak tahan diserang oleh lawan yang juga tidak pada tempatnya menggunakan ayat-ayat suci yang tidak kontekstual.

Kedua, ayat yang dipermasalahkan menurut sebagian besar ulama tafsir tidak untuk memilih pemimpin, tapi lebih pada tidak boleh mencintai orang kafir sampai pada taraf ridho terhadap agamanya. Sedangkan menjadikan pemimpin pemerintahan di Indonesia adalah Taqlid Ar Riyasah Wa Taqlid Azzu’amah (Pemimpin Pemerintahan) dan bukan Khilafatu Islamiyyah. Jadi hanya sebatas Mu’amalah (Hubungan Sosial Kemasyarakatan) yang tidak ada kaitannya dengan Imam Ad Din dan Khilafatu Islamiyyah yang boleh diberikan pada orang kafir sekalipun, asal tidak ridho terhadap agamanya. (Lihat Tafsir Al Showi jilid I halaman 288).

Ketiga, kesalahan Ahok sebetulnya sangat kecil, yaitu dia bukan orang muslim tapi ikut membicarakan kitab suci umat Islam yang sebetulnya juga dilakukan umat Islam terhadap kitab suci umat lain, seperti dikatakan “injil itu kitab palsu buatan manusia, orang-orang yang menyembah berhala itu bodoh, dll.

Keempat, andaikan Ahok itu divonis salah tapi jika sudah minta maaf, maka wajib umat Islam memaafkan dan tidak perlu menuntut diproses hukum, karena sebetulnya yang dinistakan Ahok itu Hak Allah SWT, maka biar Allah sendiri yang mengadili. Tidak pantas kalau Hak Allah diadili dengan hukum buatan manusia. Allah mengajarkan dalam AL Qur’an;

Artinya: Ambillah maaf (kemudahan dari perangai manusia dan jangan mencari-cari kekurangan) dan ajaklah dengan baik dan kebaikan. Dan berpalinglah dari orang-orang bodoh (jangan dibalas dengan kebodohan).

Kelima, sudara-saudara kita sesama umat Islam sama sekali tidak meniru akhlak Rasulullah SAW yang bersifat pemaaf. Sudah berapa banyak orang kafir yang menghina Nabi, bahkan melukainya secara fisik. Belaiu pernah menyantuni orang-orang yang pernah menyakitinya, seperti Ikrimah bin Abu Jahal, Abu Sufyan bin Harits, dan Sufyan bin Umayah, mereka tidak dibalas, tetapi malah dikasih ghanimah (harta). Beliau pernah diracun oleh seorang perempuan yang dibubuhkan pada kikil kambing dan beliau memakannya, tapi beliau tidak meninggal dunia, sementara Bisyri bin Al Barak ikut makan lalu ia meninggal. nabi tidak menghukum perempuan itu walaupun hanya dengan alasan yang sangat sederhana, yaitu “saya meracuninya karena menurutku jika Muhammad seorang Nabi maka tidak akan mempan diracun, dan jika dia bukan Nabi, maka saya lega berhasil membunuh orang yang amat aku benci”. Dengan alasan ini saja sudah membebaskan tanpa menyelidiki lebih jauh.

Keenam, kegaduhan ini semata-mata kesalahan sebagian umat Islam sendiri, yang tidak mampu mengimplementasikan ajaran/ Sunnah Rasul secara utuh, sehingga setelah kasus Ahok ini reda, maka akan muncul kegaduhan-kegaduhan baru. Seperti yang dikatakan Sayyid Umar r.a kepada Ziyad bin Hudair:

“tahukah kamu apa yang merobohkan Islam?” aku berkata, “tidak”. Beliau berkata, “yang merobohkan Islam ialah kesalahan orang alim dan berbantahan orang munafiq dengan menggunakan kitab al qur’an. Dan hukum yang ditetapkan oleh para pemimpin yang menyesatkan.

Komentar

News Feed