oleh

Presiden Ukraina Minta Pemberontak Taati Gencatan Senjata

KIEV, BisnisIslam.com Gencatan senjata antara pasukan pemerintah Ukraina dan kelompok pemberontak pro-Rusia telah dimulai di Ukraina timur sejak hari ini, Minggu (15/2/2015). Presiden Ukraina Petro Poroshenko berharap seluruh pihak harus menghormati kesepakatan tersebut dan memerintahkan pasukannya menghentikan kontak senjata.

“Semoga kesempatan untuk berdamai ini tidak disia-siakan,” ujar Poroshenko, seperti dimuat BBC.

“Kami harap kesepakatan ini dihormati dan semua pihak mematuhinya,” imbuh dia.

Poroshenko juga memerintahkan aparat untuk melakukan operasi anti-teror untuk mengawasi gencatan senjata. Selain itu, dia juga memperingatkan agar kelompok pemberontak pro-Rusia tidak melanjutkan serangan di kota Debaltseve.

Sejumlah laporan media lokal menyebutkan pertempuran telah mereda setelah kedua pihak sepakat gencatan senjata. Namun, ada laporan yang menyebutkan insiden penembakan masih terjadi di beberapa tempat di Ukraina timur.

Sebelumnya, pemimpin kelompok pemberontak telah memerintahkan pasukannya untuk menghentikan baku tembak seiring pemberlakuan gencatan senjata. Akan tetapi pertempuran sempat pecah di dekat Kota Debaltseve hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata ditandatangani.

Pejabat Ukraina mengatakan, lebih dari 5.400 orang tewas sejak konflik meletus antara pasukan Ukraina dan kelompok milisi pro-Rusia pada April 2014. Namun menurut Badan Dunia PBB, jumlah korban tewas di Ukraina hingga saat ini justru jauh lebih tinggi ketimbang laporan resmi pemerintah Ukraina.

Pertempuran ini merupakan buntut dari pemisahan diri Crimea dari Ukraina dan kemudian bergabung ke Rusia, kemudian diikuti oleh kehadiran pasukanan Rusia di semenanjung Crimea, bagian selatan Ukraina.

Ukraina dan negara-negara Barat menuduh Rusia mengirim pasukan dan senjata untuk membantu kelompok separatis di bagian timur Donetsk dan Luhansk, yang selalu dibantah oleh Kremlin. [] Liputan 6

Komentar

News Feed